A GLIMPSE OF MY THOUGHT My Simple Life

Banyak Uang, Banyak Barang, Hati Senang?

Saya akan memulai tulisan ini dengan sebuah pengakuan. Saat kuliah dan merantau dulu, mulanya saya sangat boros dan sangat mudah membelanjakan uang saya. Hampir semua uang bulanan saya dihabiskan untuk kesenangan dan kemudahan hidup saya. Hanya saja hal itu tidak berlangsung lama, dua tahun hidup dengan gaya hidup yang demikian justru bikin saya penyakitan dan stress. Apa sebabnya?

Saya akan ceritakan titik balik pemahaman saya tentang belanja, barang, dan uang. Semoga tidak membosankan, ya.

Kesenangan dan Kemudahan

Dulu saya percaya uang, waktu, dan kesehatan saling terkait. Ini sebabnya saya pilih indekos dekat dari kampus meski harus bayar uang sewa sejumlah belasan juta pertahun. Iya, saya mengeluarkan uang sewa indekos cukup banyak dengan harapan bisa mempersingkat waktu tempuh menuju kampus agar saya tidak kelelahan, sebab saya pikir saya bakal punya banyak waktu untuk istirahat di indekos. Terlebih indekos saya punya fasilitas lengkap, seperti water heater dan laundry.

Sementara untuk sisa uang bulanan biasanya saya pakai membeli barang yang saya senangi, rak buku baru, baju baru, atau benda lainnya yang saya pikir akan memudahkan pekerjaan rumah (indekos) saya.

Beruntungnya, orang tua saya saat itu mampu untuk mengusahakan uang bulanan dalam jumlah yang saya butuhkan. Iya, namanya juga orang tua akan mengusahakan apa yang akan membahagiakan hidup anaknya dan bikin hati anaknya senang.

Setahun berlalu, saya mulai menemukan banyak sekali kekurangan dari indekos saya. Karena berada di dekat jalan raya, banyak debu yang masuk ke kamar. Bikin saya batuk bahkan radang tenggorokan. Akibatnya saya menghabiskan banyak uang untuk biaya medis. Minum obat ini dan vitamin itu. Fisik saya melemah.

Ditambah lagi aktivitas di kampus menumpuk, ternyata jarang sekali saya menghabiskan waktu di indekos yang mahal itu. Beberapa kali bahkan tanpa saya sadari kamar indekos saya dalam kondisi berantakan bak kapal pecah.

Waktu entah kenapa terasa cepat berlalu, saya menjadi selalu terburu-buru dalam beraktivitas. Saking merasa terdesak waktu, saya yang sebenarnya memiliki printer di indekos jadi lebih memilih mencetak tugas di tempat abang fotocopy-an karena mesinnya bekerja lebih cepat. Lagi-lagi, saya tak menolak mengeluarkan uang lebih.

Dua tahun berlalu, batuk tak kunjung sembuh. Kamar semakin sering berantakan. Makan tak teratur, saya tak lagi sempat memasak. Baju yang sudah di-laundry entah mengapa tak sempat dimasukkan ke lemari. Barang-barang di kamar yang menumpuk sudah berdebu. Hanya tersisa tempat tidur yang nyaman, sisanya tak beraturan.

Saya menjadi sering menangis. Ingin pulang rasanya. Saya merasa gagal mengatur diri, meski sudah mengeluarkan banyak uang, punya fasilitas, saya tak merasa tenang. Saya malah sakit dan merasa selalu diburu waktu.

Usai berdiskusi dengan seorang teman, saya jadi terpikir untuk pindah ke indekos yang lebih murah dengan alasan ingin mencari suasana baru dan mencari kosan yang lebih sejuk dan jauh dari debu jalan raya.

Saya berhasil pindah ke tempat yang lebih murah yang terletak di dalam gang, sehingga tidak terpapar langsung debu jalan raya. Namun kamarnya sangat kecil, fasilitas minim. Tapi yasudahlah…saya coba beradaptasi.

Setahun pertama, saya mulai mengurangi barang-barang saya karena barang saya terlalu banyak untuk kamar indekos saya yang kecil. Saya juga mulai bisa mengatur ritme hidup yang lebih teratur, karena jarak dari indekos ke kampus cukup jauh saya harus bangun lebih awal dan berjalan kaki untuk mendapat akses transportasi (sedikit olahraga setiap hari). Saya juga berkenalan dengan banyak teman baru di indekos ini.

Dua tahun di indekos baru, rupanya saya semakin sering menghabiskan waktu di indekos. Menikmati kamar saya yang kecil namun nyaman dan berinteraksi dengan teman-teman indekos. Hari-hari terasa lebih ramai, saya tidak lagi merasa sendiri. Secara fisik saya pun semakin kuat. Jarang saya jatuh sakit.

Pindahnya saya dari indekos pertama ke indekos baru jadi langkah awal saya memikirkan kembali pemahaman saya tentang uang, waktu, dan kesehatan. Ternyata, membayar mahal bukan solusi mendapat kenyamanan dan ketenangan. Ternyata, punya banyak materi, belum tentu bikin happy dan pekerjaan mudah. Ternyata, interaksi dengan orang lain dan kesederhanaan lebih bikin tenang. Ritme hidup saya terasa melambat dan menjadi jauh dari stress. Saya bersyukur telah mengalami dan akhirnya memahami hal ini.

Salam,
Bunga


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.