daily My Simple Life

Cerita Hamil #2 Trimester Pertama

Baiklah, kita mulai Cerita Hamil #2 Trimester Pertama ini dengan satu prinsip yang harus diingat. Bahwa apapun yang saya ceritakan di sini belum tentu akan kamu alami juga dan semua masukan yang saya sampaikan bisa kamu jadikan bahan pertimbanganmu dalam bertindak atau mengambil keputusan, hihihi. Selamat membaca!

Tahu Positif Hamil Gimana Ceritanya?

Saya termasuk perempuan yang masa haidnya teratur. Sehingga, sangat mudah bagi saya untuk tahu apakah saya sudah atau belum terlambat datang bulan.

Ketika itu, saya sudah was-was menanti-nanti. Sehingga setelah telat datang bulan sehari, saya akhirnya membeli testpack (sekalian janjian ketemuan dengan teman dekat saya, Lidya, di sebuah mall). Rencananya testpack akan dipakai pada hari Sabtu saat suami libur kerja supaya bisa lihat hasilnya berdua. Tapi, rasa penasaran saya enggak bisa ditahan hehehehe… Akhirnya saya pakai testpack-nya ketika melipir buang air kecil di toilet bioskop mall itu.

Ternyata, hasilnya jelas banget, garis dua dan iya…Saya positif hamil. Maafkan aku suamiku 🙁 Kamu bukan orang pertama yang tahu soal ini, Lidya lebih dulu tahu. Hehehe… Tapi tenang secepat kilat saya langsung mengambil gambar testpack itu dan mengirimkannya ke suami saya. Baru kemudian satu demi satu orang sekitar diberitahu kabar bahagia ini.

Okay, di sini ceritanya masih bikin semringah. Mari masuk bagian yang lebih nyesss….

Perubahan Fisik & Mental?

Hormon-hormon mulai bergejolak. Mood mulai naik-turun. Saya juga makin sensitif, baper, dan rewel. Berusaha denial kalau lagi sensi malah bikin saya tampak semakin ngeselin wkwkwk… Absurd pokoknya.

Sebenarnya sebelum saya tahu saya hamil, saya sudah merasa ada yang aneh dengan badan saya. Rasanya mirip seperti perubahan fisik saat akan datang bulan, tapi ada bedanya dalam beberapa hal. Misal, seperti menjelang haid, payudara rasanya mengencang selama beberapa hari , tapi di awal kehamilan justru berlangsung lama.

Rasanya saya juga gampang lelah dan mengantuk. Lalu, saat sudah positif hamil saya pun mulai merasa ada yang aneh di sekitar perut saya. Seperti sesuatu sedang terjadi di dalam sana. Hehehe… Rasanya tidak nyaman, bahkan sesekali saya merasa mual dan muntah. Kemudian, tiba-tiba tengah malam merasa lapar. Bingung, kan? Hehe… Intinya, secara fisik kita bisa merasakan ada perubahan yang terjadi dan perubahan itu nyatanya mengganggu kenyamanan. Kira-kira begitu.

Pulang dari konsultasi dengan dokter, kami akhirnya tahu kalau sudah ada kantung janin di rahim saya. Tentu kami berharap agar saat konsultasi selanjutnya kami sudah bisa melihat janin yang berkembang dengan sehat di kantung itu. Namun, di sinilah awal mula perjuangan yang sesungguhnya.

Seperti ibu hamil pada umumnya, saya yakin bahwa kehamilan bukanlah penyakit. Artinya, saya masih bisa beraktifitas normal. Maka, saya dan suami pun memutuskan untuk mengikuti workshop dari WordPress di akhir minggu (sudah daftar jauh-jauh hari).

Sepulangnya dari acara tersebut, ternyata saya mengalami flek menyerupai gumpalan darah segar. Saya panik bukan main, bahkan saya pun terisak, menangis.

Flek, Tanda Kehamilan atau Keguguran?

Percaya atau tidak, kemunculan flek jadi hal yang paling bikin stres bagi mereka yang sedang hamil muda. Pasalnya, tidak semua perempuan mengalaminya dan darah yang mengalir bisa jadi indikasi keguguran. Ada perempuan yang hanya mengalami keputihan dengan sedikit bercak merah muda. Tapi ada yang merah kecoklatan, dan yang paling bikin parno, merah darah segar 🙁

Ada banyak artikel di Google yang mengupas persoalan flek ini. Dari penjelasan soal warna flek sampai indikasinya. Tapi maaf, saya tidak akan menjelaskan dengan rinci di tulisan ini perkara flek. Sebab, untuk menentukan bahaya atau tidaknya dan faktor terjadinya flek butuh keahlian dan pemahaman medis yang mumpuni. Saya sarankan kamu untuk baca di sini. Jangan panik jika menghadapi situasi ini. Dan apabila ingin memastikan keadaanmu, sebaiknya percayakan kepada dokter, berkonsultasilah.

Singkat cerita, untuk kasus saya menurut penjelasan dokter kandungan, faktor hormon dan implantasi menjadi penyebab flek darah muncul. Dan saya disarankan untuk bedrest. Sebab saat USG, terlihat jelas adanya darah di luar kantung rahim.

Kalau kamu menyimak cerita hamil #1 , mungkin kamu bisa memahami gejolak batin saya yang saat itu ingin kembali bekerja, tapi kemudian berhadapan dengan realita bahwa saya sebaiknya rehat sampai flek hilang.

Pendeknya, akhirnya saya bedrest total, menjaga pola makan, dan menjauhi semua kegiatan yang melelahkan. Saya masih ingat jelas, ketika saya mengganti alas kasur, kemudian saya mengalami flek. Ternyata itu terhitung pekerjaan yang melelahkan juga. Saya benar-benar harus menghemat gerakan saya, sulit membayangkan saya bisa bekerja atau berkarier untuk saat itu.

Tapi tak apa, prioritas saya adalah kesehatan janin. Saya bisa menunda semua rencana saya untuk satu kehidupan baru, untuk anak kami.

Dukungan Suami dan Keluarga

Bersyukur, suami selalu menenangkan saya, memberi dukungan moral. Dia sabar menghadapi tangis, kepanikan, dan keluhan saya. Dia memberi solusi demi solusi di saat saya tak bisa berpikir jernih. Tapi tulisan ini tidak dibuat untuk memuji dia saja hehehe…

Saya tak akan melupakan bagaimana suami saya menjadi partner terpercaya saya, orang yang paling berusaha memahami saya, dan orang yang paling memperhatikan saya selama kehamilan ini.

Batuk Di Awal Kehamilan

Saya sudah bilang sebelumnya bahwa dukungan suami dan keluarga sangat berperan di trimester pertama. Jangan sampai ibu stres dan kurang asupan gizi. Lingkungan terdekat baiknya dikondisikan jadi comfort zone.

Dukungan suami dan keluarga bukan hanya secara moral, tetapi juga secara fisik. Meski mereka harus lebih perhatian pada bumil, mereka juga perlu menhaga kesehatan fisiknya. Supaya ibu hamil tidak tertular penyakit. Beneran ini mah?! Hihi

Saya mengalami batuk di trimester pertama. Kalau celoteh ibu mertuaku sih, batuk karena bawaan bayi. Iya, ada mitos para buibu bahwa ibu hamil muda biasa kok mengalami batuk ringan gitu. Hehehe…

Sayangnya, saya kurang setuju. Saya pikir saat batuk itu saya sebenarnya tertular batuk dari pak suami. Tak lama setelah batuk suami mereda, giliran saya yang mengalami. Inilah mengapa saya bilang, perlu sekali bagi anggota keluarga untuk tetap menjaga kesehatan. Sistem kekebalan tubuh ibu hamil kabarnya melemah saat hamil, sehingga rentan terkena panyakit.

Lalu, bagaimana caranya agar sembuh? Sejujurnya saya tak menemukan cara efektif lainnya selain konsultasi ke dokter.

Saya sudah mencoba untuk mengatasi batuk dengan cara alami seperti minum air lemon, jahe, mandi air hangat, dan sebagainya, tapi tidak kunjung sembuh. Saya coba banyak mium air putih saja akhirnya.

Hanya saja, batuk terus berlanjut sampai-sampai mengganggu tidur saya. Saya tidak bisa tidur. Baru setelahnya kami memutuskan ke dokter. Dokter kandungan memberikan saya obat batuk minum/sirup bernama Silex. Setelah obat habis, batuk tak juga sembuh.

Setelah konsultasi lagi dengan dokter kandung, saya dirujuk ke dokter penyakit dalam (dengan note ibu hami), dokter pun memberikan saya obat batuk sirup dan antibiotik yang aman diminum ibu hamil. Usai mengonsumsi obat 2-5 hari, batuk saya pun sembuh.

Malas Makan Atau Pilih-Pilih Makanan

Alhamdulillah, saya tidak mengalami kedua hal ini, malas makan atau pilih-pilih makanan. Saya tidak mengalami mual-mual dan tidak menjadi anti makanan tertentu. Beberapa teman saya bercerita, ada yang mual dengan sayur, dengan nasi, dengan susu, bahkan mual dengan bau dapur!

Prinsip saya saat itu, suka atau tidak saya akan makan apapun yang bagus untuk perkembangan janin dan kesehatan saya. Misalnya, saya minum jus beet agar HB saya naik. Meskipun beet bau tanah, saya minum saja.

Hikmah

Pada trimester ini saya mengalami banyak gejolak batin hehe… Saya rasa para bumil juga mengalaminya, ya. Di tiga bulan pertama ini banyak sekali kekhawatiran dan ketidaktahuan, sehingga ibu harus rajin belajar, mau membaca buku, bertanya pada pakar, dan tidak malu meminta pendapat orang lain.

_

Sekian cerita hamil #2. Insya Allah topik selanjutnya akan saya tulis lebih mendetail dan rapi. Tulisan ini dibuat via smartphone karena sudah dekat HPL bayi kami. Apabila kamu ada pertanyaan atau ada hal yang juga ingin kamu share, silahkan dituliskan di kolom komentar, ya. Terima kasih sudah membaca 🙂

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.