movie and book review

Ulasan Film Korea : “Along With the Gods: The Two Worlds”

Film “Along with the Gods: The Two Worlds” menjadi film Korea Selatan pertama yang saya tonton di bioskop Indonesia. Hal yang membuat saya tertarik menontonnya adalah kehadiran aktor-aktor papan atas Korea Selatan di film ini, seperti Ha Jung Woo dan Cha Tae Hyun. Saya mengetahui Ha Jung Woo dari film “The Tunnel”, sementara Cha Tae Hyun dari reality show “2 Days 1 Night” dan film “My Sassy Girl”. Partisipasi mereka dalam film ini membuat saya mengira-ngira jika film “Along with the Gods: The Two Worlds” akan menjadi film yang bagus. Berikut sinopsis dan ulasan saya mengenai film ini.

Sinopsis:

Kim Ja Hong (Cha Tae hyun) belum siap untuk mati, ia belum menyampaikan kalimat perpisahannya untuk sang ibu. Satu-satunya cara untuk bisa bertemu ibunya, Ja Hong harus mendapat kesempatan bereinkarnasi dan muncul di mimpi ibunya. Ja Hong yang meninggal usai jatuh dari gedung ketika bertugas menyelamatkan korban kebakaran, dijemput arwahnya oleh tiga malaikat pendamping, yakni Gang Rim (Ha Jung Woo), Haewonmak (Ju Ji Hoon), dan Duk Choon (Kim Hyang Gi). Mereka bertugas memandu dan membela Ja-Hong, menjadi pengacara bagi Ja Hong dalam persidangan di alam baka. Siapa sangka, Ja Hong yang diketahui sebagai orang baik/suri tauladan ternyata malah membuat kewalahan para malaikat pendamping yang membelanya.  

Ulasan:

Film ini mengaduk kisah keluarga dan fantasi tentang alam baka. Film berdurasi sekitar 140 menit ini cukup berhasil membolak-balik emosi penonton dengan pancingan rasa iba, kasihan, miris, marah, kesal, jengkel, benci, suka cita, bahagia, lucu, sedih, dan haru. Meski berdurasi panjang, film ini membawa kisah yang kompleks dan autentik, sehingga penonton tetap betah menyaksikannya.

Audio mumpuni dan visual yang cukup bagus. Meski sayang, efek CGI yang berusaha dipamerkan justru membuat suguhan visual film ini seketika terasa kurang menarik. Gambar malah terlihat agak mengganggu lantaran efek dibuat lama dan tak jelas atau mungkin tak rapi. Misalnya saja efek CGI yang disematkan pada adegan Gang Rim mengejar Roh Pendendam di area perumahan (tiang listrik) dan langit malam perkotaan. Penonton kesulitan menangkap keberadaan dan gerak-gerik kedua tokoh ini saat CGI diterapkan. Untungnya, penonton masih bisa mengikuti jalan cerita, selama mereka masih berkonsentrasi penuh pada film.

Soal akting para pemerannya, saya rasa sudah cukup memuaskan. Bahkan spesial untuk Ha Jung Woo, saya sangat mengapresiasi beliau. Aktingnya keren dan karismatik. Menurut saya karakter Gang Rim -lah yang menjadi karakter kunci film ini. Rasanya emosi saya saat menonton serupa atau terhubung dengan emosi tokoh Gang Rim. Bisa jadi karena karakternya yang juga berdiri sebagai pengamat kisah keluarga Ja Hong, sama seperti posisi penonton yang menonton dan memperhatikan dengan seksama kisah hidup Ja Hong yang dramatis.

Saya memang tak membaca Webtoon yang menjadi sumber cerita film ini. Namun, saat film ini diputar dan setelah film ini selesai saya tonton, satu pertanyaan terus bertengger di kepala saya, “Apa iya pengadilan alam baka tidak jelas dan tidak bijaksana seperti tergambar di dalam film ini, sampai-sampai manusia yang di sidang mesti dibela mati-matian oleh para malaikat?” Hahaha… Sedikit menakutkan kalau di alam baka saja bisa terjadi ketidakadilan.

Penilaian:

8,5 dari 10.

Catatan:

direkomendasikan.

tayang di Indonesia sejak 5 Januari 2018.

Saya menanti lanjutan kisahnya. Kabarnya, bagian kedua akan tayang pada paruh kedua tahun 2018. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.