A GLIMPSE OF MY THOUGHT My Simple Life

Imunisasi di Tengah Pandemi Covid-19

Anakku bangun pagi dan aku merasa sangat letih untuk memulai hari ini. Meski begitu aku tetap bergerak mempersiapkan segalanya dengan terburu-buru. Hari ini anakku akan mendapat imunisasi.

Di tengah pandemi Covid-19, orang tua mana yang tidak khawatir untuk membawa anaknya keluar rumah -yang katanya tempat teraman-, apalagi memboyongnya ke rumah sakit. Kami akan membawa si buah hati ke Rumah Sakit Siloam Lippo Village (Karawaci).

Selain karena ia lahir di sana, dokter anak yang selama ini menanganinya juga praktek di sana. Sang dokter pun meyakinkan kami bahwa sejauh ini situasinya masih aman untuk melakukan imunisasi.

Kami yakin itu aman? Awalnya tidak. Tapi kami bersiap saja. Begini pengalaman kami membawa anak kami pergi imunisasi.

Sebelum Hari H Imunisasi

Kami menanyakan kepada dokter via WhatsApp apakah memungkinkan melakukan imunisasi sesuai tanggal yang sudah ditentukan (4 April 2020). Dokter tidak langsung menjawab pesan itu, aku menunggu.

Sambil menanti jawaban dokter, aku bertanya kepada seorang teman, Mama Rumi, mengenai referensi tempat imunisasi yang aman. Dia menjawab beberapa temannya (yang juga seorang ibu, juga kakak iparnya) membawa anak mereka imunisasi ke Rumah Vaksinasi dan Bamed Child and Baby Clinic. Untuk Rumah Vaksinasi ternyata ada cabang yang dekat dari rumahku.

Terang saja aku jadi tenang, klinik khusus anak dan vaksinasi ini hanya menerima tamu yang datang selain orang sakit dan tidak menampung banyak orang perkedatangan. Apalagi salah satu klinik mengharuskan pendaftaran terlebih dahulu.

Sambil menunggu jawaban dokter, aku sudah bisa tenang karena sudah punya rencana cadangan.

Memutuskan Ke Rumah Sakit

Akhirnya dokter membalas pesanku. Dokter bilang aman untuk melakukan imunisasi sesuai jadwal, namun kami harus menggunakan masker dan mengabarinya waktu kedatangan kami. Dokter menyarankan agar bayi kami menunggu di mobil, selama registrasi dan jeda tunggu.

Melihat jawaban dokter, sepertinya aman untuk pergi ke rumah sakit. Kami memberanikan diri membawa anak kami ke Siloam.

Hari H – Imunisasi

Kumasukkan ke tas kecil semua perlengkapan anakku, yang berbeda dari biasanya (perlengkapan saat akan bepergian) hanya tambahan mainan dan beberapa benda lain. Karena anakku akan menunggu di mobil, kubawa bantal menyusui, perlak, dan kain bedong.

Sebenernya hal yang paling banyak kupersiapkan pagi ini adalah beberapa botol air, dan sabun cuci tangan, masker, dan baju ganti. Kami memutuskan akan bebersih dulu selepas keluar gedung rumah sakit, sebelum masuk mobil) dengan mencuci tangan dan melepas baju (kami akan pakai baju berlapis dari rumah). Lebay? Iya, namanya juga usaha hehe….

Akhirnya sampai di rumah sakit. Sesampainya suamiku turun menuju registrasi. Di pintu masuk tampak ada semacam triase pengunjung rumah sakit. Semua pengunjung diharuskan mengisi formulir deklarasi sehat. Adapun isinya singkatnya yakni pernyataan diri bukan seorang ODP Covid-19.

Jika bukan ODP maka pengunjung diperkenankan masuk ke dalam rumah sakit, apabila ODP akan diarahkan menuju tenda-tenda besar khusus pemeriksaan Covid-19 di depan IGD gedung Siloam Internasional maupun di IGD Paviliun Umum Siloam.

Apabila sudah selesai mengisi deklarasi, pengunjung diberikan stiker penanda dan kemudian ia diarahkan untuk menggunakan hand sanitizer. Lalu bebas melenggang masuk ke bagian dalam rumah sakit. Oia ini bukan untuk pengunjung saja, staff rumah sakit dan dokter pun wajib melakukannya.

Untungnya, pengisian formulir deklarasi sehat itu bisa dilakukan di aplikasi MySiloam, sehingga aku dan bayiku dapat langsung dipasangi stiker dan melaju ke ruangan dokter.

Di dalam ruangan dokter, dengan tangkas dokter mengimunisasi bayi kami, menanyakan perkembangannya, hingga mempersilahkan kami bertanya.

Dokter menjelaskan pula bahwa sebaiknya selama pandemi kami tetap di rumah, meski begitu imunisasi sebaiknya tetap dilaksanakan sesuai jadwal untuk menghindari resiko wabah penyakit lainnya. Untuk itu dokter menerangkan bahwa ia dan pihak rumah sakit sudah menyesuaikan beberapa hal terkait pelayanan di tengah pandemi.

Ia menguraikan bahwa ruangan praktik imunisasi (anak sehat) dengan ruangan periksa (anak sakit) dipisahkan atau dengan kata lain berbeda ruangan.

“Ruang tunggu sebaiknya tak digunakan”, ungkapnya. Lebih baik menunggu saja di mobil. Orang tua wajib menggunakan masker. Sementara bayi memang tidak menggunakan masker. “Untuk itu, usai keluar rumah sebaiknya pun langsung mandi”.

Alhasil, sepulang dari imunisasi kami semua (termasuk bayi) mandi. Pakaian yang dipakai keluar, langsung dicuci. Segitunya? Iya, namanya juga usaha hehe….

Jadi, pergi imunisasi nih?

Saya menyarankan, iya terlebih jika anak masih di bawah usia 1 tahun. Berkonsultasilah dengan dokter anak mengenai situasi ini, mintalah rekomendasinya. Coba juga kamu baca rekomendasi imunisasi anak pada situasi Covid-19 dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) untuk mengetahui mengapa imunisasi penting untuk tetap dilakukan.

Semoga bermanfaat 🙂

10 thoughts on “Imunisasi di Tengah Pandemi Covid-19”

    1. Baiknya tetep Konsul ke DSA yg biasa Bun. Mana tau cuma libur 14 hari. Tapi kalau mau nyari yg baru sebaiknya tanya kerabat Bun. Disesuaikan sama lokasi tempat tinggal saja. Saya enggak ada rekomendasi sih, tapi kalau mau coba Dsa anak saya, dr. Melanie Widjaja di Siloam Lippo Village.

  1. Aku jg galau nih mau vaksin. Trus pas wa dokter ya, katanya buat anak dibawah 1th vaksnin ga beh ditunda.. yauda jd minggu depan tetap vaksin sesuai jadwal..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.