A GLIMPSE OF MY THOUGHT My Simple Life

Mengapa saya kuliah?

Pasca pengumuman SBMPTN 2019, saya melirik sana-sini, penasaran bagaimana suasana dan emosi yang muncul di media sosial. Bukan tanpa alasan, saya mulai tertarik persoalan ini karena adik saya juga mengikuti UTBK dan juga menanti hasil pengumuman.

Entah apa yang bikin saya ikut deg-degan menanti pengumuman ini. Apa karena saya pernah ada di situasi yang sama dengan mereka? Iya, bisa saja.

Apa yang saya lihat? Sama saja seperti di tahun saya. Meski sistem seleksi mengalami perubahan, emosi yang muncul pasca pengumuman tetap sama. Ada rasa lega, heran, bingung, panik, kecewa, dan pasrah.

Awalnya, kuliah karena….

Kembali ke saat dimana saya dinyatakan lulus diterima sebagai mahasiswa baru Ilmu Komunikasi Fikom Unpad, saya ingat saya merasa bingung bercampur lega. Bingung karena saya tak tahu jurusan apa yang saya pilih itu dan dimanakah universitas itu berada. Namun lega rasanya karena paling tidak ada satu universitas negeri yang mau menjadikan saya sebagai mahasiswanya. “Aku enggak terbuang”, mungkin perisisnya seperti ini pikir saya saat itu.

Tak bisa dibohongi ada sebuah ketakutan yang membayangi setiap kali menjelang masa pengumuman seleksi masuk universitas. Takut tidak lulus, merasa “terbuang” ke universitas swasta/perguruan tinggi/kursus yang akan berakibat saya menjadi diremehkan/direndahkan orang-orang. Orang tua saya malu dan merasa anaknya telah gagal/bodoh. Dan saya, di mata guru BK SMA juga teman-teman SMA pun dianggap bernasib sial dan tidak berkemampuan. Bayang-bayang kehidupan masa depan yang suram, karena saya dicap kurang berpendidikan dan tidak berkemampuan seakan menjadi opsi terburuk yang bisa menimpa saya. Itu semua ketakutan saya saat itu.

Saat itu saya hanya ingin diterima di universitas negeri untuk membuktikan saya berhasil dan hidup saya normal. Saya ingin melanjutkan tahap baru kehidupan saya dan menjadi sama dengan anak-anak lain. Saya tidak mau tertinggal.

Maka, setelah teringat-ingat kenangan itu bisa dibilang saya kuliah karena kuliah adalah hal yang diinginkan anak seumuran saya dan saya ingin juga mendapatkannya agar dianggap memiliki hidup yang normal dan baik.

Tetapi, saat kuliah saya merasa….

Setelah memulai perkuliahan di Jatinangor, entah mengapa saya malah mulai bertanya-tanya, “Kok jadinya begini, ya? Kok saya jadi kuliah di sini? Ini beneran kuliah yang saya mau? Di masa depan saya harus kerja sesuai jurusan ini? Apa saya harus ujian ulang? Tapi lulus ga kalau ujian ulang? Sepertinya saya tidak cocok di sini, tapi apa boleh saya keluar? Boleh pindah jurusan? Tapi mau jadi apa saya?” Kenapa saya kuliah?”

Pertanyaan-pertanyaan tersebut tentu tidak mampu saya jawab. Apa yang saya lakukan kemudian? Saya hanya menjalankan kehidupan perkuliahan dengan penuh pasrah, belajar dengan rajin dan berusaha mendapat nilai bagus. Supaya saat ditanya keluarga bisa menjawab dengan lega, merasa sudah menuntaskan kewajiban. Tak ada pilihan lain rasanya selain menuntaskan perkuliahan dengan baik. Pikir saya saat itu, setelah lulus menjadi sarjana baru akan saya pikirkan lagi apa yang bisa saya lakukan dengan hidup ini. Hehehe…

Memasuki pertengahan masa perkuliahan (semester 4/5), saya mulai berpikir untuk membekali diri dengan berbagai kemampuan. Ia saya butuh skill untuk bisa bersaing nanti. Karenanya saya rajin ikut organisasi sana-sini.

Kata para senior di organisasi, selain skill kita juga butuh relasi yang akan sangat membantu kita pada masa mencari pekerjaan nanti. Saya percaya saja.

Hingga tiba pada saat saya menulis skripsi, saya kembali mengeluarkan tumpukan pertanyaan saya (pertanyaan yang muncul di awal masa perkuliahan). Setelah lulus mau jadi apa? Saya harus jadi apa? Bagaimana kalau saya tidak diterima kerja? Apa saya benar-benar ingin bekerja? Atau S2 saja? Kok saya kuliah di jurusan jurnalistik sih? Saya harus jadi jurnalis? Saya boleh enggak jadi yang lain? Sebenarnya saya mau jadi apa?”

Akhirnya saya yakin, saya kuliah karena….

Sambil saya menyelesaikan skripsi saya, satu demi satu pertanyaan saya coba jawab. Setelah masa 4 tahun di kampus saya akan lulus menjadi sarjana Ilmu Komunikasi jurusan Jurnalistik. Ini kualifikasi saya sebagai modal awal memasuki dunia kerja. Saya akan bekerja dimana saja selama itu masih relevan dengan skill dan ilmu yang saya dapatkan di kampus.

Apa saya menyesal kuliah?

Ternyata saya tidak menyesal. Pada akhirnya saya bersyukur karena saya mampu menyelesaikan kuliah saya dengan baik. Lega sekali bisa menyelesaikannya. Sebagai seorang dewasa muda, berhasil meraih kualifikasi S1 adalah capaian yang baik dan berguna untuk karier, dari jurusan apapun kita lulus.

Tapi, sejujurnya saya pun pernah merasa menyesal. Bukan menyesal karena saya kuliah. Melainkan menyesal karena saya tidak benar-benar dengan sadar memilih jurusan yang ingin saya tuju dan universitas apa yang ingin saya jadikan tempat belajar. Itu saja.

Kiranya pengalaman berkuliah ini bikin saya paham lebih awal bahwa selepas masa SMA, kita yang terbiasa berada dalam sistem ini juga mesti dengan kesadaran dan pertimbangan dalam membuat keputusan. Sebab, jenjang pasca SMA ini berisi jutaan opsi jalan kehidupan yang bisa ditempuh, kita harus memilihb sendiri dengan sadar. Kenali diri sendiri dan pilih jalan yang benar-benar ingin ditempuh.

Harus kuliah?

Saya tidak mendikte agar siswa SMA kemudian mesti kuliah. Poin saya adalah kuliah atau tidak pun adalah sebuah opsi yang harus dipertimbangkan secara matang. “Mengapa saya harus kuliah? Apa rencana saya? Apa yang saya ingin lakukan?”

Libatkan dirimu sepenuhnya dalam proses ini. Bukan terbawa arus ataupun ikut perintah dari orang lain. Karena pada akhirnya kamu yang akan bertanggung jawab atas dirimu sendiri. Ini adalah hidupmu, kamu berhak menentukannya dan kamu berkewajiban untuk membuat dirimu bahagia kemana pun jalan yang kamu pilih.

Sekian.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.