Uncategorized

RRCI dan Gairah Musik Melayu Riau

Teori yang mencetuskan mengenai lokasi kerajaan Sriwijaya telah dirombak oleh
Ir. L. Moens dalam terbitannya, Crivijaya, Yava en Kataha (T.B.G.LXXVII) pada 1918. Ia menyampaikan bila Sriwijaya tidak berada di Palembang. Menurutnya, Sriwijaya berpusat di pantai timur Malaya, kemudian berpindah ke Sumatra Tengah dekat Muara Takus, Riau. Sepaham dengan Moens, Prof. Dr. Slamet Muljana, dalam bukunya Sriwijaya yang terbit pada tahun 2006, menyatakan pembahasan seputar pelacakan lokasi kerajaan Sriwijaya menjadi menarik terutama karena Moens memaparkan teorinya dan menegakkannya dengan menggunakan berita-berita geografi.

Serupa dengan Slamet, Rino Dezapaty
Mby, seorang komposer musik dari provinsi Riau merasa teori Moens itu unik dan layak diulik. Sebagai seorang musikus Rino menggunakan landasan sejarah untuk mengeksplorasi materi karya musiknya. Inilah langkah awal kesuksesan Rino membawa musiknya ke berbagai negara dan wilayah Indonesia.

Beberapa orang boleh jadi menganggap musik hanya sekadar teknik dan permainan nada, namun bagi Rino nyatanya untuk menciptakan sebuah karya musik, kearifan cerita rakyat setempat yang hadir secara turun-temurun masuk dalam riset seni musiknya. Ia bersedia melakukan observasi dan menelusuri jejak sastra lisan dalam masyarakat untuk menemukan cerita-cerita yang bisa diangkat olehnya menjadi inspirasi dalam bermusik.

“Setiap lagu yang dimainkan memiliki landasan sejarah, bukan hanya hasil imajinasi saja,” ujar Rino kepada penulis di Cilandak, Jakarta Selatan pada 2014 silam.

Rino rela meluangkan waktu lebih dalam menggali khazanah kehidupan Melayu kuno, sebab ia bertekad untuk mengembalikan kejayaan dan gairah musik melayu di tanah kelahirannya, kota Pekanbaru, Riau.

“Observasi, studi literatur, konsep yang detail, latihan yang disiplin, dan perhatian pada ekspresi musik menjadi langkah untuk mendapat hasil yang bernas,” tuturnya.

Rino menuturkan, setelah sempat mengeyam bangku perkuliahan sebagai mahasiswa Institut Kesenian Jakarta (IKJ), pada tahun 2000 memutuskan untuk kembali ke Pekanbaru.

Rino lahir dari keluarga melayu yang juga para seniman. Ayahnya seorang koreografer kenamaan Riau, E. Rahim. Sementara Ibunya seorang penari melayu. Kakeknya, Datuk Panglima Mby Bintan. Rino kerap menuliskan nama kakeknya “Mby” sebagai bagian dari namanya. Rino menuturkan hal tersebut dilakukannya sebagai simbol kesediaannya mengemban misi kebudayaan, yakni untuk melestarikan musik Melayu.

Usai kembali dari perantauannya di Jakarta, Rino menekuni dan mempelajari budaya Riau lewat seni musik. Ia menggeluti musik beraliran etnik. Musiknya menjadi berbeda tatkala dibaurkannya penggunaan alat musik tradisional dengan alat musik barat. Ditambah lagi dengan aksi panggung yang hidup.

Mulanya, Rino berusaha mengaransemen beberapa lagu melayu lawas agar menjadi musik lokal yang bisa dinikmati banyak orang, terutama oleh generasi muda. Berangkat dari kondisi sosial mengenai minimnya pengetahuan anak muda Riau mengenai budaya dan musik khas daerahnya, maka lahirlah karya pertama Rino berupa aransemen lagu zapin, yaitu Satellite of Zapin.

Rino bersama teman-temannya kemudian membentuk sebuah kelompok
musik bernama Riau Rhythm Chambers Indonesia (RRCI). Kelompok musik ini kemudian beranggotakan 10 orang dengan beragam alat musik. Selain alat musik khas Melayu: calempong, gambang dan gambus, RRCI memainkan pula alat musik lain, beberapa diantaranya: cello, violin, flute, psaltery, vibraphone, percussion, dan gitar.

“Untuk membuat hasil yang besar butuh teamwork yang besar,” ujarnya.

Berangkat dari kisah Suvarnadvipa, pulau emas, Rino bersam RRCI bercerita melalui karya mereka tentang kehidupan masyarakat Muara Takus. Muara takus terletak di kecamatan XIII Koto, Kampar, Riau. Dari hasil observasi, mereka menemukan 15 jenis sastra lisan yang dilantunkan masyarakat setempat. Sastra lisan inilah yang kemudian dikreasikan menjadi musik. Mereka berhasil membuat sembilan lagu: Si Bono, Langkapuri, Lukah Gile, Indira Dunia, Pencalang Laut Embun, Dentang Denting Dentum, Sri Perca, Sound of Suvarnadvipa, dan Svara Jiwa.

Demi memuluskan niatnya menyebar virus kecintaan terhadap budaya Melayu, Rino merekrut anggota untuk kelompok musiknya yang terdiri dari berbagai kalangan usia, termasuk usia muda.

Ia pun sadar betul jika musik bisa mati bila tidak ada regenerasi. Ia ingin keterlibatan kaum muda pun menjadi contoh bagi pemuda lain bahwa ternyata bermain alat musik daerah itu keren.

“Banggalah ketika mampu bermain alat musik daerah. Itu tidak biasa. Banyak orang memainkan gitar, lalu apa kerennya? Tapi
ketika anak muda bisa bermain gambus, itu luar biasa,” ujarnya.

###

Tulisan ini merupakan hasil suntingan penulis terhadap tulisan penulis yang sebelumnya dipergunakan untuk mata kuliah  penulisan berita khas. Wawancara dilakukan 2014 silam. Semoga masih relevan.

___

Sumber:
wawancara
Historia
(https://historia.id/kuno/articles/pulau-emas-di-barat-nusantara-6k4rr) diakses pada Oktober 2020.
Koran Harian Riau Pos edisi 10 November 2014
http://www.tempo.co/read/news/2014/09/23/112608947/Balutan-Etno-Contempo
ala-Riau-Rhytm/1/1 dipetik pada 16 November 2014 pukul 19.57 WIB
http://riaurhythm.com/2014/09/mempertanyakan-suvarnadvipa-sampai-ke-tanah
daeng/ dipetik pada 16 November 2014 pukul 20.43 WIB

Gambar:
Kebudayaan.kemendikbud.go.id
(https://images.app.goo.gl/W8T2wdsqKyvWuRsX9) diakses pada Oktober 2020.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.