A GLIMPSE OF MY THOUGHT My Simple Life

Social Media dan Harapan untuk Didengar

Saya pikir, media sosial menjadi saluran/medium orang-orang berbicara. Follower bisa diibaratkan audience tetap si penggunggah. Jadi, ada efek semu dimana si penggunggah bisa merasakan jika konten atau hal yang hendak dibicarakannya itu pastilah akan didengar oleh para follower.

Efek itu membuat manusia tampak menyedihkan. Ketimbang dampak positifnya, hal negatifnya cukup banyak. Misal, membuat kita menjadi terbiasa untuk meminta dipahami secara lebih. Ingin orang memahami dengan sendirinya apa yang kita sukai, kita benci, dan seperti apa diri kita. Memotong fase penjajakan, cukup melihat permukaan kehidupan seseorang via laman media sosial. Bahkan, paling parah menipu diri sendiri untuk menutupi cela dari orang lain.

Untuk itu, saya menghapus aplikasi Instagram, Twitter, dan Facebook di ponsel saya. Saya hanya mengaksesnya via desktop atau meminjam ponsel suami saya.

Saya lelah mendengar semua celotehan orang-orang di media sosial. Entah celotehan itu memang datang dari lubuk hati terdalam si penggunggah atau hanya sekedar konten harian saja, untuk meraih atensi, popularitas, atau kepuasan diri lainnya. Semua menjadi blur. Serba tidak jelas.

Belakangan saya hanya ingin didengar oleh orang-orang yang benar-benar mengenali saya. Didengar oleh mereka yang memang hidup bersama saya. Mereka yang tidak akan melepaskan saya begitu saja ketika saya terpuruk, kami saling menyayangi. Saya dan mereka, kami merasa saling memiliki atas hari-hari yang kami jalanai. Telepon, chat singkat, bahkan sekedar emoticon. Saya suka perasaan tulus yang ikut dibagikan lewat komunikasi semacam ini. Saya pun selalu menanti mereka bercerita kepada saya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.