Birthcare Center, Humor Satire di dalam Melodrama

Banyak rekomendasi drama Korea (drakor) yang dibagikan netizen di media sosial tak langsung membuat saya kepincut untuk menonton semuanya. Selain karena saya tak mau meluangkan banyak waktu untuk melakukan hal itu, juga karena saya haus akan drakor bertema khas dan kalau bisa bertalian dengan kehidupan saya. Hingga akhirnya, pilihan saya bermuara pada drama berjudul “Birthcare Center”.

“Birthcare Center” menyoroti kehidupan di sebuah layanan kesehatan yang membantu para perempuan menjalani hari-hari pasca melahirkan. Bagi saya drama ini cocok sekali untuk ditonton, temanya sedikit banyak bersinggungan dengan kehidupan pribadi saya: perempuan yang bekerja kemudian menikah, lalu punya anak. 

Sosok Ibu yang Sempurna

Cerita bermula dari seorang Direktur Manager Oh Hyun Jin yang hamil di usia 40 tahun. Sepanjang kariernya bekerja, ia selalu cemerlang dan sukses melakukan apapun. Hingga tiba di satu titik dalam hidupnya, ia merasa menjadi yang paling redup lantaran beberapa kali tampak tak bisa mengurus anak (yang baru dilahirkannya) dengan baik seperti ibu lainnya yang ia temui di Serenity Birthcare Center. Pergolakan batin Hyun Jin kian hari kian bertambah, ia pun bimbang akan masa depan kariernya hingga persoalan keutuhan rumah tangganya.

Tak berhenti pada Hyun Jin, ada karakter perempuan lain yang juga disorot seperti Jo Eun Jung, mantan pramugari yang kini beranak tiga. Meski berlagak jadi sosok ibu sempurna, Eun Jung tahu sebenarnya ia sedang tidak baik-baik saja. Adapula Lee Roo Da, perempuan muda yang skeptis terhadap standar masyarakat tentang sosok ibu yang baik atau bahkan ibu yang sempurna. Ketiga karakter perempuan ini saling mempengaruhi, bersaing, dan menolong. 

Isu yang diangkat oleh drama ini menjadi daya tarik utama “Birthcare Center” meraih perhatian penonton. Isu seputar Postpartum Depression (PPD) dan Baby Blues Syndrome adalah topik yang seru untuk disimak. Bahasan PPD dan Baby Blues masih sering diselimuti stigma, meskipun banyak perempuan mengalaminya.

Seperti Hyun Jin yang mendiagnosis dirinya melalui internet, saya yakin banyak perempuan di luar sana yang hanya mengandalkan internet ketimbang meminta pertolongan kepada orang terdekat atau tenaga medis. Ada ketakutan dan rasa malu yang membayangi kala ada orang yang tahu jika ia mengalami PPD atau Baby Blues. Tak berbeda jauh dengan isu aborsi yang banyak didiskusikan komunitas feminis, isu sakit mental pasca melahirkan ini juga layak disuarakan dan dibahas bersama. 

Masyarakat masih sering mengasosiasikan perempuan yang mengalami PPD dan Baby Blues dengan kurangnya iman dalam beragama dan ketidakmampuan menjalani kodrat. Padahal ekspektasi masyarakat akan sosok dan peran ibu yang tidak realistislah yang membuat tekanan ganda kepada batin dan fisik para perempuan. 

Humor Satire Biar Terhibur Sekaligus Tersindir

Rumit sekali jika harus menceritakan bagaimana perjuangan perempuan untuk pulih secara fisik dan mental usai melahirkan. Bisa jadi kamu bakal ikut-ikutan menangis melihat sakitnya melahirkan dan pemulihan, lelahnya rutinitas, dana beban mental para penghuni Birthcare Center. 

Hebatnya drama ini berhasil menarasikannya dengan cara yang sangat menghibur. Kompleksitas masa nifas mampu dikemas secara humoris dan sarat kritik sosial. Inilah melodrama yang tak melulu berisi air mata, tapi juga gelak tawa. Hanya saja pada satu kesempatan kamu dapat tertawa terpingkal-pingkal, namun pada kesempatan lain kamu malah terdiam, tersindir. 

Misalnya saja saat adegan Hyun Jin bersama bayi mungil, suami, dan ibunya yang hendak pulang dari rumah sakit digambarkan bak dalam marabahaya, sutradara Park So Woon mengarahkan pengambilan visual yang hiperbola. Sebagai orang tua baru, Hyun Jin dan suami berusaha mati-matian melindungi si bayi dari hal-hal kecil yang mungkin berbahaya (debu, bersin, dan orang ramai!) bagi hidup bayi mereka. Bagi mereka itu tugas pertama dan merupakan tugas yang sangat sulit. Mari kita menertawakan tingkah Hyun Jin dan keluarganya!

Awalnya saya merasa terganggu dengan hal ini, rasanya berlebihan adegannya dibikin demikian. Padahal adegan itu juga tidak penting-penting amat, membawa pulang bayi dari ruang rawat inap ke mobil. Seharusnya bisa dilompat saja langsung ke adegan lain. UPS! Saya salah. Justru adegan ini penting. Adegan ini menggambarkan dimulainya peran Hyun Jin dan suami sebagai orang tua baru dan cara mereka melindungi buah hatinya. 

Jika digali lebih dalam lagi drama ini sedang mengkritik lewat humor bagaimana orang tua baru bertingkah terlampau higienis dan kelewat hati-hati terhadap apapun soal anaknya. Sampai-sampai bikin mereka stress sendiri akibat terlampau khawatir. Jujur, saya juga melakukan hal ini saat membawa pulang bayi saya. Saya tersindir.  

Ada banyak humor satire yang ditebar penulis Kim Ji Soo di dalam drama ini. Contohnya lagi saat suami Hyun Jin, Kim Do Yoon membeli kereta bayi, penjaga toko terus menawarkannya barang yang setingkat lebih baik menurut klaimnya. Semakin bagus, semakin mahal. Sebagai orang tua yang ingin hal terbaik untuk anaknya, Do Yoon pun nyaris terhasut untuk membeli kereta terbaik seharga 10 bulan gajinya. Adegan ini sangat lucu, tapi lagi-lagi menyindir orang tua baru yang jadi mudah dimanipulasi akibat terbutakan kasih sayang pada anak.

Parodi Persidangan terhadap Hyun Jin

Bagi saya yang paling berkesan terdapat di episode terakhir berupa parodi persidangan. Hyun Jin (dalam imajinasi) tengah disidang dengan tuduhan membahayakan hidup anaknya. Penuntut umum mengutarakan sejumlah pertanyaan sebagai upaya menyudutkan Hyun jin.

Salah satu pertanyaannya, “Apa yang akan kamu lakukan jika anakmu tiba-tiba sakit perut?” Hyun Jin dengan percaya diri lantas menjawab, “Aku akan membawanya ke dokter”. Namun, seisi ruangan malah menghujatnya dan menyebutnya tak pantas menjadi seorang ibu. Hyun Jin yang kebingungan kemudian mencoba tenang dan mendengarkan penjelasan penuntut umum yang berkata,”Ketika anakmu sakit perut, mengelus perutnya adalah obat terbaik yang bisa kau berikan padanya. Apakah kau yakin kau adalah seorang ibu?” 

Pertanyaan lain dari penuntut umum yang menarik, “Apa hal yang paling besar di dunia ini?” Hyun Jin menjawab, “Sepengetahuan saya, itu adalah Himalaya,” Langsung penuntut umum membalas, “Hal terbesar di dunia ini adalah cinta kasih seorang ibu. Itulah yang normalnya dikatakan oleh para ibu.” Sidang berlalu begitu saja dan Hyun Jin diputus bersalah. 

Hyun Jin menjawab semua pertanyaan dengan penuh pikir, tetapi jawaban yang diharapkan ternyata adalah jawaban emosional dan klise. Seperti itulah gambaran sosok ideal ibu di mata masyarakat, sensitif pada emosi dan penuh klise jika berbicara. Jika tak begitu, maka tak pantas jadi ibu. Aneh, bukan?

____

Baca review lainnya:
Review Drama Korea “Hi, Bye Mama”
Review drama Korea “Beautiful World”

___

SUMBER GAMBAR

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.