Elia Suganda dan Sekolahku Membaca

“Buku kita banyak yang hilang, Bu” ujar seorang guru kepada Elia Suganda, saat itu Kepala Sekolah Sekolah Menengah Pertama Negeri 33 Bandung. Elia tak ambil pusing bila buku-buku itu hilang.

“Tak masalah. Kalau bukunya hilang, berarti anak-anak kita mau membaca,” jawab Elia kepada guru tersebut.

Elia menjadi kepala sekolah di SMP itu sejak 2008-2013. Di sana ia bersama tim baca, yang terdiri dari 7 orang guru berusaha mengembangkan minat baca pelajar di sekolahnya. Ia menamakan kegiatan ini sebagai “Sekolahku Membaca”. SMPN 33 mayoritas siswanya tergolong ke dalam kategori ekonomi menengah ke bawah, sehingga Elia dan tim bacanya merasa tidak mungkin meminta siswanya membeli buku. Ia dan timnya akhirnya memutuskan untuk mencari sumbangan buku ke penerbit, alumni, bahkan koleksi pribadi.

Mereka juga mencetak artikel-artikel dari surat kabar maupun internet yang bisa dibaca sebagai ganti kekurangan judul bacaan. Kegiatan “Sekolahku Membaca” ini dimulai sebelum proses belajar mengajar dilangsungkan. Baik murid maupun guru, semua harus membaca.

Soal memulai gerakan baca, Elia mengakui dirinya dan beberapa rekannya berjuang untuk melaksanakan kegiatan itu. Bahkan sejak sebelum ia menjadi kepala sekolah banyak kendala yang ia temui.

Elia sempat menjadi guru Bahasa Indonesia. Di kelasnya, Elia membuat kegiatan membaca dengan siswa. Ia memberikan bintang dan hadiah buku bagi siswa yang menyelesaikan bacaan buku terbanyak. Setelah dilakukan di kelas-kelasnya, ia pun berusaha meminta dukungan sekolah agar mau memperluas pelaksanaan programnya. Namun, usulnya ditentang oleh kepala sekolah SMPN 14 saat itu. Ia mengatakan kegiatan membaca yang dilakukan Elia bersama para siswa di kelas harus dihentikan.

Menurutnya, program baca tidak perlu dilaksanakan, murid bisa membaca sendiri tanpa disuruh. Selain itu, ia menuturkan bahwa sekolah tidak punya anggaran untuk program semacam itu. Elia sebagai bawahan tak bisa berkata banyak. Namun secara diam-diam, ia tetap melaksanakan program baca di kelas-kelas mata pelajarannya.

“Sejak saat itu saya berjanji, kalau saya jadi kepala sekolah, saya akan buat kegiatan membaca,” tutur Elia.

Janji harus ditepati, tak lama kemudian Elia dipromosikan menjadi kepala sekolah SMPN 33. Ia pun melaksanakan kegiatan baca di sekolah itu dengan leluasa, sebelum akhirnya Elia melanjutkan karirnya sebagai kepala sekolah di SMPN 3 Bandung.

Hanya saja setelah kepindahan Elia, program baca di SMPN 33 mulai tidak lancar. Tim mengeluhkan kurangnya perhatian kepala sekolah baru terhadap minat baca siswa. Elia tak bisa berbuat banyak, ia hanya berpesan agar tim guru mau untuk tetap menjalankan program itu.

Di SMPN 3 Bandung Elia pun membentuk lagi tim guru untuk kegiatan membaca. Mengalami peningkatan, di SMP ini civitasnya diharuskan membaca buku-buku yang berbeda bahasa. Senin untuk buku berbahasa Indonesia, Selasa untuk buku berbahasa Inggris, Rabu untuk buku berbahasa Sunda.

Dengan bantuan alumni dan orang tua, tim “Sekolahku Membaca Jilid II” ini mampu mengumpulkan ribuan judul buku dari berbagai bahasa. Di sekolah ini, buku pun tidak hanya menumpuk di perpustakaan saja, melainkan juga ditaruh di lorong-lorong sekolah agar mudah diambil siswa. Buku-buku yang disediakan pun telah diseleksi untuk diuji apakah cocok dengan kemampuan siswa SMP dalam mengelola hasil bacaan.

Di akhir semester sebagai indikator keberhasilan program, tim melakukan tes kemampuan membaca siswa. Dengan melihat apakah ada peningkatan kecepatan membaca dan seberapa tinggi kemampuan siswa memahami bahan bacaan.

Pembinaan minat baca seharusnya memang dimulai di sekolah-sekolah. Meskipun tidaklah semua sekolah punya perpustakaan-perpustakaan yang bagus dan lengkap.

“Kalaupun ada (perpustakan yang bagus dan lengkap) niscaya hanya sebagai usaha dan inisiatif guru-guru yang kebetulan berminat,” ujar Ajip Rosidi dalam buku kumpulan karangannya “Pembinaan Minat Baca, Bahasa dan Sastera” (1963).

Usaha dan inisiatif Elia adalah gambaran tepat dari apa yang diungkapkan Ajip. Elia mau berusaha mewujudkan kegiatan membaca di sekolah dilatarbelakangi minatnya terhadap buku. Elia mengakui dirinya mulai menaruh minat pada buku sejak SMP. Ketika itu ia gemar membaca cerita silat (cersil) Kho Ping Hoo dan sering ke perpustakaan untuk meminjam cersil itu. Setelahnya, ia pun mencoba membaca buku-buku lain.

Memang butuh waktu untuk menjadikan membaca sebagai kebiasaan. Namun, hal itu bukan mustahil dilakukan. Seperti apa yang dilakukan Elia Suganda terhadap murid-muridnya. Yura, salah seorang guru SMKN 15 Bandung mengatakan melihat perbedaan anak yang telah dibiasakan membaca. Siswanya yang berasal dari SMPN 33 menjadi salah satu pelajar yang rutin membaca di perpustakaan.

Saat ditanya sejak kapan terbiasa membaca, pelajar itu pun menjawab, “Sudah biasa, Bu. Dari SMP dulu,” ujar Yura menirukan kata-kata pelajar itu.

Atas usahanya, Elia Suganda diangkat menjadi pengawas sekolah oleh Dinas Pendidikan Kota Bandung. Kiprahnya di dunia membaca pun ibarat kereta yang selalu melaju di relnya, dia selalu dipertemukan pada tempat-tempat yang membutuhkan usaha peningkatan minat baca. Di bawah komando Kepala Dinas Pendidikan, Elia diminta untuk fokus pada usaha mewujudkan sekolah berbudaya literasi.

Hal ini terkait dengan implementasi kurikulum 2013 dan amanat Menteri Pendidikan, Anies Baswedan bahwa pada 2016 seluruh sekolah harus menerapkan program membaca 15 menit sebelum belajar. Sehingga, Disdik Kota Bandung pun akhirnya melakukan persiapan-persiapan tertentu, mulai dari pelatihan guru perpustakaan, dan sosialisasi ke kepala sekolah.

Dari perjalanannya dalam meningkatkan minat baca para pelajar, ada hal baru yang disadari oleh Elia Suganda bahwa pejabat ataupun orang dewasa punya kuasa untuk menjadikan anak-anak atau pelajar suka membaca. Mereka harus memberikan contoh (juga suka membaca) dan selalu mengajak anak-anak agar suka membaca. Akhirnya, Elia pun berkata, “Saya rasa mungkin berlaku juga untuk masyarakat. Untuk menjadikan masyarakat suka membaca, dibutuhkan pemimpin yang suka membaca”.

*Tulisan ini merupakan tugas kuliah saya pada pertengahan tahun 2015.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.